Menggendong Rengganis Menuju Curug Pitu di Banjarnegara

Sudah cukup lama saya tidak bepergian bersama Rengganis ke tempat wisata yang bertema alam. Sebenarnya perjalanan kali ini ingin mengajak serta Istri saya, namun karena bertabrakan dengan jadwal pijetnya, maka kali ini cukup Saya dan Rengganis saya yang bepergian.

Seperti yang sudah saya rencanakan, tas baby carrier Four Season siap menopang bobot Rengganis dalam perjalanan ini. Beberapa makanan ringan dan susu kotak sudah tersimpan rapi di dalam tas. Saya juga memastikan untuk membawa baju ganti, karena sudah bisa dipastikan Renggans akan bermain air ketika berada di lokasi.

Lokasi perjalanan kami kali ini berada di Curug Pitu, Desa Kemiri, Kecamatan Sigaluh, Kabupaten Banjarnegara. Dinamakan Curug Pitu karena memiliki tujuh tingkatan air terjun. Saya berkunjung ketika sedang berada di musim penghujan, sehingga merasa yakin bahwa debit airnya akan cukup banyak, walaupun belum yakin tentang tingkat kejernihan airnya. Lokasinya di Google Maps bisa dilihat di bawah ini.

Perjalanan kami tempuh menggunakan sepeda motor, kurang lebih 15 menit dari Alun-alun Banjarnegara. Selepas berbelok dari Jalan Raya Banjarnegara – Wonosobo, ruang pandang saya langsung disuguhi sawah yang menghijau dengan bukit sebagai latar belakangnya. Angin yang berhembus cukuplah dingin saat itu pada cuaca yang cerah.

Petunjuk jalan untuk menuju lokasi parkir Curug Pitu cukup membantu, walau pada beberapa titik saya harus bertanya kependukduk sekitar untuk meyakinkan diri terhadap jalan yang saya lalui. Kondisi jalan bervariasi, mulai dari aspal disambung beton ketika berada di daerah pemukiman warga. Saya tidak menghadapi kendala berarti ketika hendak menuju area parkir Curug Sewu.

Sepertinya kami adalah pengunjung pertama hari itu, terlihat dari masih sepinya area parkir. Setelah saya berkemas sejenak merapikan beberapa barang di sepeda motor saya, kemudian saya menuju ke loket tiket dimana telah berada seorang petugas yang mengenakan pakaian bebas dan santai.

Curug Pitu Banjarnegara
Akhirnya sampai di pintu masuk area wisata Curug Pitu, masih sepi karena kami berangkat cukup pagi saat itu.

Saya cukup kaget ketika mengetahui bahwa saya hanya disodori satu tiket saja seharga Rp.4.000 ditambah dengan parkir sepeda motor Rp.1.000. Jadi total saya hanya mengeluarkan biaya Rp.5.000 untuk bisa masuk area Curug Pitu, rupanya Rengganis belum dihitung untuk terkena tiekt masuk.

Curug Pitu Banjarnegara
Tiket masuknya murah dan meriah.

Setelah mendapatkan tiket masuk dan memasukannya ke dalam tas cangklong saya, segera saya mengangkat Rengganis untuk masuk ke dalam tempat duduk di tas baby carrier. Dengan sikap penurutnya, Rengganis memposisikan tanganya untuk mengikuti alur lubang agar sabuk pengaman bisa dipasang dengan baik. Alhamdulillah, Rengganis sudah mengerti aturanya ketika berada di tas baby carrier ini.

Setelah berdoa sebelum melangkahkan kaki pertama melintasi gerbang masuk, Rengganis sudah mulai cerewet, bertanya ini itu apa sembari menunjuk benda yang ditanyakan. Rengganis memang senang ketika diajak main ke tempat terbuka seperti ini. Selain udara dan angin yang lebih cocok dengan kondisi tubuhnya yang mudah berkeringat, ada banyak obyek yang sering membuatnya ingin tahu.

Curug Pitu Banjarnegara
Jalan aspal yang cukup menanjak saat baru pertama melintasi gerbang masuk.

Jalan langsung sedikit menanjak pada awal perjalanan, rupanya tidak sampai 50 meter dari pintu masuk, sudah terlihat curug ke tujuh, namun Rengganis lebih memilih untuk melanjutkan perjalanan menuju ke curug ke enam karena melihat ada tangga yang berada di sisi kanan jalan.

Curug Pitu Banjarnegara
Tangga untuk menuju air terjun ke enam cukup terjal, saya sampai beberapa kali berhenti untuk mengambil nafas sembari mengajak Rengganis bercerita.

Perjalanan melintasi tangga ini lumayan menguras tenaga dan kesabaran. Ketika saya terpaksa berhenti untuk mengambil nafas lebih dalam, Rengganis malah menggoyag-goyang tas sembari meminta saya untuk tetap berjalan. Bukan pertama kalinya saya mengalami hal ini, dulu saat camping sehari di lereng Gunung Ungaran ia malah merengek lebih keras.

“Baiklah nak, permintaanmu aku kabulkan”

Ujarku dalam hati sembari meletakan tangan pada pegangan tangga. Rupanya badan ini sudah tidak memiliki stamina seperti dulu kala saat gemar mendaki beberapa gunung. Perasaan bobot tas carrier dalam kegiatan pendakian saya lebih berat daripada bobot Rengganis yang 14 kilogram ditambah bobot tas dan perbekalan yang sekitar 3 kilogram.

“Apakah ini yang dinamakan mengemban amanah?“

Curug Pitu Banjarnegara
Air terjun ke enam dari gazebo, dari lokasi ini deburan airnya cukup terasa.

Akhirnya setelah menaik anak tangga yang cukup curam tersebut, akhirnya sampailah kami di gazebo yang berada di tepian curug ke enam. Sepi, tiada pengunjung selain kami. Rengganis minta untuk turun guna bermain dengan air.

Curug Pitu Banjarnegara
Ada jembatan bambu yang tidak mengarah kemana-mana sebenarnya, hanya sebagai pelengkap untuk bisa berdiri dan berfoto tepat di depan air terjun.

Ketinggian curug ke enam ini tidak lah terlalu tinggi, namun deburannya lumayan terasa sehingga titik-titik air banyak beterbangan terbawa angin yang terbentuk dari deburan tersebut. Saya meletakan tas baby carier dibalik tembok gazebo agar tidak terlalu basah terkena uap air.

Lalu bermain airlah kami di tepian kolam yang berada di bawah curug ke enam. Airnya cukup dingin, mungkin karena masih cukup pagi sehingga sinar matahari belum terlalu bisa menghangatkan airnya.

Curug Pitu Banjarnegara
Selamat pagi Rengganis :*

Salah satu hal yang saya suka saat pagi itu adalah cahayanya yang lembut, sehingga bisa menghasilkan tone foto yang saya suka. Foto berdimensi dengan cahaya pagi. Untuk foto 360 di area air terjun ke enam, bisa dilihat di bawah ini.

Setelah melihat bahwa lokasi kolam dan aliran air di curug ke enam tidak bisa untuk bermain Rengganis, maka akhirnya saya memutuskan untuk berpindah ke curug yang lainnya. Rupanya jalan untuk menuju ke curug lainnya tidak diberi petunjuk jalan, sehingga saya hanya menebak saja sambil melihat ke sekitar untuk menyakinkan bahwa itu adalah jalan yang benar.

Jalan yang kami lewati kali ini masih berupa tanah dan banyak terlihat pohon salak yang dibudidayakan di daerah tersebut. Suasana di sini lebih terasa tenang dengan sesekali suara burung terdengar. Tidak berapa lama saya berjalan, samar-samar terdengar suara air terjun. Saya segera menolehkan pandangan untuk mencari darimana sumber suara tersebut.

Di sebelah kiri jalan yang kami lewati terlihat ada sebuah air terjun, namun tidak terlihat jalan untuk bisa menuju tempat tersebut, maka kami berjalan kembali. Sekiranya ada 2 atau 3 air terjun yang kami termui seperti itu. Hingga akhirnya kami mendapati air terjun yang rendah namun dengan area yang cukup terbuka.

Curug Pitu Banjarnegara
Seingat saya ini adalah air terjun ketiga, semoga tidak salah. Tempat dimana kami menghabiskan banyak waktu untuk bermain air dan menikmati akhir pekan.

Saya tidak tahu ini air terjun ke berapa karena saya lupa menghitungnya, juga tidak ada papan informasinya. Di air terjun ini kami berdua bermain air cukup lama. Rengganis juga terlihat sangat gembira bermain air jernih di tempat tersebut sembari melempar-lempar kerikil ke kolam.

Ini bukan pertama kalinya Rengganis kegirangan bermain air jernih dan segar semacam ini. Hanya saja syarat tersenyum saya sering bergerak sendiri untuk melebar ketika melihat Rengganis begitu bahagia berada di tempat seperti ini.

Saya biarkan saja celana dan kaosnya basah, karena saya sudah membawa baju ganti. Sekitar 30 menit Rengganis bermain air di lokasi tersebut, hingga akhirnya saya mendapati telapak tanganya sudah mulai keriput. Seegera saya bujuk Rengganis untuk beranjak dari aliran air tersebut, lalu menepi di tempat yang teduh untuk berganti dengan pakaian yang kering.

Untuk foto 360 area air terjun ketiga, bisa dilihat di bawah ini.

Setelah semua siap, Rengganis kembali saya naikan ke dalam tas baby carrier. Kami mulai menuruni kembali tangga yang saya tapaki ketika perjalanan naik. Saya sempat berhenti ketika berjumpa dengan seorang petani yang hendak memanen durian bila melihat dari peralatan yang dibawanya.

Saya bertanya-tanya mengenai harga dan kualitas durian di lokasi tersebut, walaupun bukan penyuka durian, namun niat untuk membahagiakan istri adalah sebuah pahala.

Curug Pitu Banjarnegara
Sejenak mengunjungi air terjun ke tujuh, air terjun yang paling dekat dengan pintu masuk. Mungkin hanya berjarak 50 meter.

Kami akhirnya mengunjungi curug ke tujuh yang berada paling dekat dengan gerbang masuk. Hanya sekedar mengobati rasa penasaran, kami hanya berfoto sejenak sebelum kembali ke tempat parkiran. Untuk foto 360 di sekitar air terjun ke tujuh, bisa dilihat di bawah ini.

Seperti biasanya, membawa batita menggunakan tas baby carrier bukanlah pemandangan biasa ketika kita berada di tempat publik. Jadi ya saya sudah cukup terbiasa ketika ada beberapa pengujung yang ya….begitulah, hehehe.

Akhirnya kami sampai di parkiran, sebelum menuju ke tempat dimana sepeda motor saya letakan. Kami duduk terlebih dahulu di dekat loket masuk, beristirahat sejenak sembari menemani Rengganis memakan sereal dengan susu rasa vanila.

Kami melakukan perjalanan pulang dengan santai dengan cuaca yang cerah siang itu. Hingga akhirnya menjemput istri saya yang sudah selesai pijat, lalu Rengganis tertidur di pangkuan Istri saya sebelum kami mencapai rumah.

Perjalanan menuju ke curug pitu kali ini tergolong perjalanan sederhana, selain biaya yang murah, lokasi yang cukup dekat, juga termasuk jenis wisata yang disukai Rengganis.

Jadi adakah pengalaman perjalanan dari para pembaca yang pernah melakukan perjalanan sederhana namun memberikan kesan yang lebih dari sederhana?.

Salam.

error: Maaf, Konten memiliki hak cipta dan diproteksi